Minggu, 06 Mei 2012

Ciri-ciri Atau Sifat Orang Munafik !

Ciri-ciri Atau Sifat Orang Munafik !

Written By: Zahiruddin - Sep• 25•10
Salam,
Terima kasih kerana sudi menjenguk laman web rezeki halal ini. Semoga semua di berkati dan di rahmati Allah. Kali ini saya akan kongsi perihal sifat hati iaitu – MUNAFIK. Memang kita selalu dengar perkataan MUNAFIK itu dan pernah tak kita tanya apakah ciri-cirinya. Oleh itu saya ingin kongsikan di sini:
Mungkin kita selalu mendengar perkataan munafik di dalam kehidupan kita sehari-hari.Pada kita ia perkara biasa dan tak ade apa pun.Namun sebenarnya munafik itu adalah suatu sifat yang amat buruk dan mencelakan.
Apakah kita termasuk orang yang munafik?
Mungkin kita dengan tegas mengatakan kita adalah bukan orang munafik karena kurangnya pemahaman kita mengenai apa itu sifat munafik yang sesungguhnya.
Hadits Nabi Muhammad SAW Tentang Orang-Orang Munafik :
“Tanda orang-orang munafik itu ada tiga keadaan. Pertama, apabila berkata-kata ia berdusta. Kedua, apabila berjanji ia mengingkari. Ketiga, apabila diberikan amanah (kepercayaan) ia mengkhianatinya”.(Hadist Riwayat Bukhari dan Muslim).
Ciri-Ciri / Sifat-Sifat Munafik Manusia :
1. Apabila berkata maka dia akan berkata bohong / dusta.
2. Jika membuat suatu janji atau kesepakatan dia akan mengingkari janjinya.
3. Bila diberi kepercayaan / amanat maka dia akan mengkhianatinya.
Untuk disebut sebagai orang munafik sejati sepertinya harus memenuhi semua ketiga persyaratan di atas yaitu pembohong, pengkhianat dan pengingkar janji. Jika baru satu atau dua ciri saja mungkin belum menjadi munafik tapi baru calon munafik.
1. Berbohong / Dusta
Bohong adalah mengatakan sesuatu yang tidak benar kepada orang lain. Jadi apabila kita tidak jujur kepada orang lain maka kita bisa menjadi orang yang munafik. Contoh bohong dalam kehidupan keseharian kita yaitu seperti menerima telepon dan mengatakan bahwa orang yang dituju tidak ada tetapi pada kenyataannya orang itu ada. Contoh lainnya seperti ada anak ditanya dari mana oleh orang tuanya dan anak kecil itu mengatakan tempat yang tidak habis  dikunjunginya.
2. Ingkar Janji
Seseorang terkadang suka membuat suatu perjanjian atau kesepakatan dengan orang lain. Apabila orang itu tidak mengikuti janji yang telah disepakati maka orang itu berarti telah ingkat janji. Contohnya seperti janjian ketemu sama pacar di warung kebab bang piih tetapi tidak datang karena lebih mementingkan bisnis. Misal lainnya yaitu seperti para siswa yang telah menyepakati janji siswa namun tidak dilaksanakan dengan penuh tanggungjawab.
3. Berkhianat/ Tidak Amanah
Khianat mungkin yang paling berat kelasnya dibandingkan dengan sifat tukang bohong dan tukang ingkar janji. Contohnya seorang yang di amanahkan menjaga harta tapi beliau menggunakan harta itu untuk kepentingan dirinya sendiri.
Di Bawah adalah antar 30 Sifat Munafik yang boleh wujud pada diri dan membuatkan kita jadi munafik secara tak sedar. Bacalah dan semaklah samada sifat2 itu ada pada kita. Jika ada usahalah untuk memperbaiki.
30 Sifat Munafik Yang Wujud Dalam Hati Kita:
Sifat Yang Ke-1 : Dusta
Sifat Yang Ke-2 : Khianat
Sifat Yang Ke-3 : Fujur dalam Pertikaian
Sifat Yang Ke-4 : Mungkir dan Ingkar Janji
Sifat Yang Ke-5 : Malas Beribadah
Sifat Yang Ke-6 : Riya
Sifat Yang Ke-7 : Sedikit Berdzikir
Sifat Yang Ke-8 : Mempercepat Shalat
Sifat Yang Ke-9 : Mencela Orang-Orang yang Taat dan Sholeh
Sifat Yang Ke-10 : Memperolok-olokkan Al Quran, As Sunnah, dan Rasulullah saw
Sifat Yang Ke-11 : Bersumpah Palsu
Sifat Yang Ke-12 : Tidak Mahu Berinfaq
Sifat Yang Ke-13 : Tidak Memiliki Kepedulian terhadap Nasib Kaum Muslimin
Sifat Yang Ke-14 : Suka Menyebakan Kabar Dusta
Sifat Yang Ke-15 : Mengingkari Takdir
Sifat Yang Ke-16 : Mencaci maki Kehormatan Orang-Orang Sholeh
Sifat Yang Ke-17 : Sering Meninggalkan Shalat Berjamaah
Sifat Yang Ke-18 : Membuat Kerosakan di Muka Bumi dengan Dalih Mengadakan Perbaikan
Sifat Yang Ke-19 : Tidak Ada Kesesuaian antara Zahir dengan Batin
Sifat Yang Ke-20 : Takut Terhadap Kejadian Apa pun
Sifat Yang Ke-21 : Berudzur dengan Dalih Dusta
Sifat Yang Ke-22 : Menyuruh Kemungkaran dan Mencegah Kemakrufan
Sifat Yang Ke-23 : Bakhil
Sifat Yang Ke-24 : Lupa Kepada Allah swt
Sifat Yang Ke-25 : Mendustakan janji Allah dan Rasul-Nya
Sifat Yang Ke-26 : Lebih Memperhatikan Zahir, Mengabaikan Batin
Sifat Yang Ke-27 : Sombong dalam Berbicara
Sifat Yang Ke-28 : Tidak Memahami Islam (Ad Din)
Sifat Yang Ke-29 : Bersembunyi dari Manusia dan Menantang Allah dengan Dosa
Sifat Yang Ke-30 : Senang dengan Musibah yang Menimpa Orang-Orang Beriman dan Dengki Terhadap Kebahagiaan Mereka
Semoga kita semak sifat2 di atas agar kita boleh perbaiki kelemahan kita dan menjadi Hamba Allah yg lebih taat dan patuh dan bersungguh-sungguh.
Wassalam.
Zahiruddin
p/s:  Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit lalu tumbuhlah dengan suburnya kerana air itutanaman di bumi, antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak.
Hingga apabila bumi itu sudah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemiliknya mengira bahawa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanamannya) laksana tanam-tanamannya yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kelmarin.
Demikianlah Kami menjelaskan tanda kekuasaan (Kami)kepada orang yang berfikir, Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (syura), dan menunjukkan orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam).” – (Surah Yunus, ayat 24-25)

Halal kah Daging Biawak ?

Bismillahirrahmanirrahim,
Alhamdulillahirrabil ‘alamin, semoga shalawat dan salam senantiasa terus dilimpahkan kepada Nabi terakhir, Muhammad bin Abdillah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, amma ba’du.
Telah menjadi sesuatu yang lumrah ketika seorang Indonesia mengartikan Dhabb (الضَبُّ ) dengan kata biyawak, baik itu dalam buku terjemahan, artikel, majalah, ataupun bentuk-bentuk media tulis lainnya. Padahal ini merupakan kekeliruan yang sangat fatal, yang nantinya berakibat pada penghalalan daging biyawak itu sendiri. Hal tersebut telah diakui oleh kita sebagai Ahlus Sunnah wal Jama’ah, bahwasanya penghalalan sesuatu yang Allah dan Rasul Nya haramkan atau sebaliknya, merupakan salah satu bentuk dari praktek kekufuran.
Salah satu penyebab kekeliruan tersebut karena kebanyakan orang Indonesia dalam menerjemahkan kata-kata bahasa arab terlalu bergantung pada kamus-kamus terjemah yang ada. Misalnya kamus Al Munawwir, yang mana didalamnya tidak sedikit terdapat kekeliruan (tidak sesuai) didalam penterjemahan dari bahasa arab ke dalam bahasa Indonesia. Faedah yang dapat diambil, bahwa tidak semua bahasa arab bisa diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia secara mutlak.
Maka dengan risalah ini penulis ingin mencoba meluruskan kekeliruan yang ada. Wallahul muwaffiq.
APA ITU DHABB?
Untuk mengetahui apa itu dhabb, pembaca -semoga diberkahi Allah- bisa membuka Kitab Al Hayawan karya Abu ‘Utsman ‘Amr bin Bahr Al Jahizh yang terdiri dari delapan jilid atau Tajul ‘Arus karya Murtadha Az Zabidi ataupun kamus arab lainnya . Di dalam dua kitab itu disebutkan tentang apa itu dhabb terlebih lagi pada kitab yang pertama, disana kita bisa mengetahui banyak tentang dhabb.
Dan disini penulis hanya mencukupkan beberapa keterangan saja , diantaranya:
- Dhabb adalah hewan reptil yang hidup di gurun pasir,
- termasuk dari hewan darat bukan laut atau air,
- termasuk dari jenis hewan darat yang kepalanya seperti ular,
- umurnya panjang,
- sekali bertelur bisa mencapai 60 sampai 70 butir dan telurnya menyerupai telur burung merpati,
- warna kulitnya bisa berubah dikarenakan perubahan cuaca panas,
- tidak meminum air bahkan mencukupkan dirinya dengan keringat,
- ekor adalah senjatanya,
- gigi-giginya tumbuh berbarengan,
- mempunyai 4 kaki yang mana semua telapaknya seperti telapak tangan manusia,
- sebagiannya ada yang mempunyai dua lidah,
- hewan yang dimakan hanya belalang,
- terkadang memakan anaknya sendiri,
- makan tetumbuhan sejenis rumput,
- menyukai kurma,
- sebagian orang arab merasa jijik dengannya.
Pernah pada suatu kesempatan saya bertanya kepada Syaikhuna Shalih Abdul Aziz Al Ghusn (hafizhahullah),
Seperti apa dhabb itu?,
beliau menjawab: “dhabb adalah hewan barr (padang pasir) yang berjalan diatas perutnya”.
Apakah dhabb bertaring?,
beliau menjawab: “dhabb tidak bertaring, hewan ini memakan rerumputan dan tidak meminum air, dan sebagian orang memakan dagingnya”.
APA ITU BIYAWAK?
Berbeda dengan dhabb, diantara keterangan tentang biyawak adalah sebagai berikut:
- biyawak adalah hewan reptil persis seperti komodo akan tetapi ukurannya lebih kecil,
- hidup di gua-gua kecil pinggiran sungai,
- bisa berenang di air dan berjalan di darat seperti halnya buaya,
- makanannya adalah daging karena hewan ini termasuk dari jenis karnivora,
- dia memangsa santapannya (hewan-hewan yang dimakannya seperti katak, tikus, ayam atau burung sekalipun) dengan gigi taring,
- ciri fisiknya mirip dengan komodo dari mulai bentuk perut, leher, kepala, ekor, sampai gaya berjalannya.
Penulis sengaja tidak mencari referensi tentang apa itu biyawak dari kamus-kamus binatang, dikarenakan penulis pernah langsung memelihara hewan tersebut.
DAGING DHABB HALAL DIMAKAN
Berikut ini adalah beberapa hadits yang menjadi dalil akan kehalalan daging dhabb :
عن ابْن عُمَرَ رضي الله عنهما قَالَ : قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم:
(الضَبُّ لَسْتُ آكِلَهُ وَلاَ أُحَرِّمُهُ).
Dari Ibnu ‘Umar -semoga Allah meridhainya-, ia berkata: telah bersabda Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-:
“Aku tidak memakan dhabb dan aku tidak mengharamkannya.”
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما، عَنْ خَالِدٍ بْنِ الْوَلِيْدِ:
أَنَّهُ دَخَلَ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم بَيْتَ مَيْمُوْنَةَ، فَأُتِيَ بِضَبٍّ مَحْنُوْذٍ، فَأَهْوَى إِلَيْهِ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم بِيَدِهِ، فَقَالَ بَعْضُ النِّسْوَةِ: أَخْبِرُوْا رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم بِمَا يُرِيْدُ أَنْ يَأْكُلَ، فَقَالُوْا: هُوَ ضَبٌّ يَا رَسُوْلَ اللهِ، فَرَفَعَ يَدَهُ، فَقُلْتُ: أَحَرَامٌ هُوَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ فَقَالَ: (لاَ، وَلَكِنْ لَمْ يَكُنْ بِأَرْضِ قَوْمِيْ، فَأَجِدُنِيْ أَعَافُهُ). قَالَ خَالِدٌ: فَاجْتَرَرْتُهُ فَأَكَلْتُهُ، وَرَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَنْظُرُ.
Dari ‘Abdullah bin ‘Abbas -semoga Allah meridhai keduanya-, dari Khalid bin Walid -semoga Allah meridhainya-: bahwasanya ia bersama Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- masuk ke rumah Maimunah -semoga Allah meridhainya-, lalu didatangkan kepada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- daging dhabb panggang, kemudian Beliau -shallallahu ‘alaihi wa sallam- melayangkan tangannya kearah daging tersebut, lalu sebagian kaum wanita berkata:
“Beritahu Rasulullah atas apa yang akan dimakannya”,
maka para sahabat berkata:
“Wahai Rasulullah! Itu adalah daging dhabb”,
kemudian Beliau -shallallahu ‘alaihi wa sallam- mengangkat tangannya, lalu aku -Khalid- bertanya: “Apakah daging ini haram wahai Rasulullah?”,
kemudian Beliau -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:
“Tidak, akan tetapi hewan ini tidak ada di tanah kaumku dan aku memperbolehkannya”,
Khalid berkata:
“Aku pun mengambilnya lalu memakannya dan Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- melihatnya”.
عَنِ ابْنِ عُمَرَ. قَالَ:
سَأَلَ رَجُلٌ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم، وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ، عَنْ أَكْلِ الضَّبِّ؟ فَقَالَ:
(لاَ آكِلُهُ وَلاَ أُحَرِّمُهُ).
Dari Ibnu ‘Umar -semoga Allah meridhai keduanya-, ia berkata:
“Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- pernah ditanya ketika sedang berada di atas mimbar tentang memakan dhabb, lalu Beliau menjawab:
“Aku tidak memakannya dan tidak mengharamkannya”.
عن ابْن عُمَرَ: أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ مَعَهُ نَاسٌ مِنْ أَصْحَابِهِ فِيْهِمْ سَعْدٌ. وَأُتُوْا بِلَحْمِ ضَبٍّ. فَنَادَتِ امْرَأَةٌ مِنْ نِسَاءِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم: إِنَّهُ لَحْمُ ضَبٍّ.
فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: (كُلُوْا، فَإِنَّهُ حَلاَلٌ. وَلَكِنَّهُ لَيْسَ مِنْ طَعَامِيْ).
“Dari Ibnu ‘Umar -semoga Allah meridhai keduanya-: bahwasanya Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersama beberapa orang dari sahabatnya -semoga Allah meridhai mereka-, diantaranya adalah Sa’d. Didatangkan kepada mereka daging dhabb, lalu ada seorang wanita berteriak:
“Itu adalah daging dhabb”,
kemudian Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:
“Makanlah oleh kalian, karena sesungguhnya daging ini halal. Akan tetapi bukan dari makananku”.
daging biawak
DAGING BIYAWAK HARAM DIMAKAN
Berbeda dengan dhabb, dikarenakan biyawak termasuk dari jenis hewan buas dan bertaring, maka masuk kepada larangan Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- sebagaimana dalam hadits-hadits berikut ini:
عَنِ الزُّهْرِيْ:
نَهَى النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم عَنْ كُلِّ ذِيْ نَابٍ مِنَ السِّبَاعِ.
Dari Az Zuhri:
“Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah melarang setiap yang bertaring dari hewan buas (untuk dimakan.pent)”.
أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم نَهَى عَنْ أَكْلِ كُلِّ ذِيْ نَابٍ مِنَ السِّبَاعِ.
Dari Abu Tsa’labah Al Khusyni:
“Bahwasanya Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- melarang untuk memakan setiap yang bertaring dari hewan buas”.
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ :
عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ (كُلُّ ذِيْ نَابٍ مِنَ السِّبَاعِ، فَأَكْلُهُ حَرَامٌ).
Dari Abu Hurairah -semoga Allah meridhainya-, dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bahwasanya bersabda:
“Setiap yang bertaring dari hewan buas, maka memakannya adalah haram”.
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ:
أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم نَهَى عَنْ كُلِّ ذِيْ نَابٍ مِنَ السِّبَاعِ. وَعَنْ كُلِّ ذِيْ مِخْلَبٍ مِنَ الطَّيْرِ.
Dari Ibnu ‘Abbas -semoga Allah meridhai keduanya-:
“Bahwasanya Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- melarang dari setiap hewan buas yang bertaring dan dari setiap burung yang bercakar (yakni untuk dimakan.pent)”.
varanus salvator
Kesimpulannya, bahwa kata dhabb dalam bahasa arab tidak bisa kita artikan biyawak dalam bahasa Indonesia, karena keduanya adalah hewan yang saling berbeda. Dan kita di Indonesia tidak bisa mendapatkan satu ekor pun dhabb, karena memang disini bukanlah habibatnya. Sehingga kita ketahui dengan dalil-dalil yang ada bahwa daging dhabb halal untuk dimakan, adapun biyawak tidak, yakni daging biyawak haram untuk dimakan karena masuk pada hewan bertaring yang Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- melarang umatnya untuk memakannya.
Semoga risalah ini menjadi secercah sinar yang bermanfaat untuk kaum muslimin.
Wal ‘ilmu ‘indallah, wallahu a’lam bish shawab.

Keutamaan Sholat Dhuha

Keutamaan Sholat Dhuha


(Thursday, 24 August 2006) - Kontribusi dari Husam Suhaemi - Terakhir diperbaharui ()
Dari milist cinta-rasul@yahoogroups.com / cinta-rasul@googlegroups.com
Penulis: yaa_siin_36@yahoo.co.id
Keutamaan Sholat Dhuha
Sunat Dhuha adalah salah satu shalat sunat yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka
adalah kebaikan bagi kita untuk mengetahui sunnah ini.
Dari Abu Dzar, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau bersabda: “Pada pagi hari setiap tulang (persendian) dari
kalian akan dihitung sebagai sedekah. Maka setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil
adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, memerintahkan kebaikan (amar ma’ruf) dan melarang dari berbuat
munkar (nahi munkar) adalah sedekah. Semua itu cukup dengan dua rakaat yang dilaksanakan di waktu Dhuha.”
[HR. Muslim, Abu Dawud dan riwayat Bukhari dari Abu Hurairah]
Dari Abu Hurairah, ia berkata: “Kekasihku Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah berwasiat kepadaku tiga perkara: [1] puasa
tiga hari setiap bulan, [2] dua rakaat shalat Dhuha dan [3] melaksanakan shalat witir sebelum tidur.”
[HR. Bukhari, Muslim, Turmuzi, Abu Dawud, Nasa’i, Ahmad dan Ad-Darami]
Dari Abud Darda, ia berkata: “Kekasihku telah berwasiat kepadaku tiga hal. Hendaklah saya tidak pernah meninggalkan
ketiga hal itu selama saya masih hidup: [1] menunaikan puasa selama tiga hari pada setiap bulan, [2] mengerjakan
shalat Dhuha, dan [3] tidak tidur sebelum menunaikan shalat Witir.”
[HR. Muslim, Abu Dawud, Turmuzi dan Nasa’i]
Anjuran Sholat Dhuha
Dari Aisyah, ia berkata: “Saya tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menunaikan
shalat Dhuha, sedangkan saya sendiri mengerjakannya. Sesungguhnya Rasulullah SAW pasti akan meninggalkan
sebuah perbuatan meskipun beliau menyukai untuk mengerjakannya. Beliau berbuat seperti itu karena khawatir jikalau
orang-orang ikut mengerjakan amalan itu sehingga mereka menganggapnya sebagai ibadah yang hukumnya wajib
(fardhu).”
[HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ahmad, Malik dan Ad-Darami]
Dalam Syarah An-Nawawi disebutkan:
Aisyah berkata seperti itu karena dia tidak setiap saat bersama Rasulullah. Pada saat itu Rasulullah memiliki istri
sebanyak 9 (sembilan) orang. Jadi Aisyah harus menunggu selama 8 hari sebelum gilirannya tiba. Dalam masa 8 hari
itu, tidak selamanya Aisyah mengetahui apa-apa yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di rumah istri
beliau yang lain.
Keutamaan Sholat Dhuha
ari Anas [bin Malik], bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa mengerjakan shalat Dhuha
sebanyak 12 (dua belas) rakaat, maka ALLAH akan membangunkan untuknya istana di syurga”.
[HR. Turmuzi dan Ibnu Majah, hadis hasan]

Hukum Mengusap Wajah setelah Sholat dan Berdo’a

Tanya: Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarokatuh.
Setelah salam (akhir sholat) dan selesai berdo’a kebanyakan orang menyapu muka. Apakah menyapu muka itu diajarkan Rosulullah? Apa dalilnya?
Ahmad Jazuli (dc_bj***@yahoo.com)
Jawab: Wa ‘alaikumussalaam warahmatullahi wabarokatuh.
Menyapu / mengusap muka baik setelah selesai salam ataupun selesai berdo’a tidak diajarkan oleh Rosulullah, dan hadits-hadits yang mendukungnya pun sangat lemah tidak bisa dijadikan sandaran, di antara hadits-hadits itu:
1. Hadits Umar, “Adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila mengangkat kedua tangannya saat berdo’a beliau tidak menurunkannya hingga mengusap wajahnya dengan keduanya.” Hadits ini dikeluarkan oleh At Tirmidzi dalam Sunannya 2/244, namun di dalam sanadnya terdapat seorang rawi Hammad bin Isa Al Juhaniy. Dikatakan oleh Ibnu Ma’in: Syaikhun sholeh, oleh Abu Hatim: dho’iful hadits, dan oleh Abu Daud: ia meriwayatkan hadits-hadits munkar. Serta didho’ifkan pula oleh Ad Daruquthni.
2. Hadits dari Saib bin Yazid dari bapaknya bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila berdo’a beliau mengangkat kedua tangannya lalu mengusap wajahnya dengan keduanya.” Hadits ini dikeluarkan oleh Abu Daud dalam Sunannya no. 1492. Di dalam sanad haditsnya ada rawi yang bernama Hafs bin Hasyim keadaannya majhul (tidak diketahui) dan ada Ibnu Lahi’ah yang dho’if.
3. Hadits Ibnu Abbas, “Apabila kamu telah selesai berdo’a, maka usaplah wajahmu dengan keduanya (kedua tangan).” Hadits ini dikeluarkan oleh Abu Daud dan Ibnu Majah, tetapi pada sanadnya ada rawi yang bernama Sholeh bin Hasan, munkarul hadits seperti kata Al Bukhori. Adapun An Nasa`i beliau mengatakan tentangnya, “Matrukul hadits.”
Dari uraian di atas maka jelaslah hadits-hadits dalam masalah ini sangat lemah. Meski banyak, hadits-hadits itu tidaklah saling menguatkan karena kedho’ifannya yang sangat. Untuk lebih terperincinya lihat Irwa`ul Ghalil: 2/ 178-179.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Seorang yang berdo’a tidak boleh mengusap wajahnya dengan kedua tangannya, karena mengusapnya dengan kedua tangan adalah ibadah, butuh kepada dalil yang shohih yang menjadi hujjah bagi seseorang di sisi Allah bila ia mengamalkannya. Adapun hadits dho’if, maka tidaklah kokoh untuk dijadikan hujjah.” (Dari Syarhul Mumthi: 4/54). Wal ‘ilmu ‘indallah.
Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Hamzah Al Atsary.

Adab Bertamu

esungguhnya hal itu telah dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam KitabNya dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Sunnahnya. Allah berfirman,
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat.” (QS An Nuur: 27).
Dalam ayat ini diterangkan tentang beberapa adab memasuki rumah orang lain, di antaranya
pertama: meminta izin berikut mengucapkan salam tiga kali (dalam artian mengucapkan salam sudah termasuk di dalamnya meminta izin), bila setelah itu belum juga ada jawaban maka hendaknya kembali pulang. Dalilnya hadits riwayat Bukhari dari Abu Sa’id Al Khudri.
Kedua: hendaknya tidak berdiri tepat di depan pintu rumah orang yang didatangi, namun berdiri di sebelah kanan atau kirinya pintu. Dalilnya hadits riwayat Abu Dawud dari Abdullah bin Bisyr.
Ketiga: bila ditanya oleh penghuni rumah “Siapa?”, tidak diperkenankan menjawab, “Saya” tetapi harus menyebutkan namanya.
Dalilnya saat Jabir bin Abdillah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian ditanya, “Siapa?”, beliau menjawab, “Saya.” lalu Rasulullah berkata, “Saya! Saya!” seolah beliau membencinya. (HR Bukhari dari Jabir). Keempat: bila rumah yang didatangi tidak ada penghuni laki-lakinya (suaminya), yang ada hanya perempuan (istrinya) maka tidak boleh meminta izin untuk masuk. Berkata Ibnu Katsir, “Berkata Ibnu Juraij, aku bertanya kepada Atho`, bolehkah seorang laki-laki minta izin masuk rumah kepada istri (yang suaminya sedang keluar rumah)? Beliau menjawab: Tidak.” Kelima: bila si penghuni rumah menyuruh untuk pulang (sebelum diizinkan masuk) maka wajib untuk pulang. Dalilnya firman Allah,
“Dan jika dikatakan kepadamu: Kembali (saja)lah, maka hendaklah kamu kembali. Itu lebih bersih bagimu dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS An Nuur: 28).
Wal ‘ilmu ‘indallah.
Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Hamzah Al Atsary.

Keutamaan Berpuasa part II

KEUTAMAAN BERPUASA

1. URGENSI SHAUM DALAM TAZKIYAH NAFS
Secara umum puasa menjadi sarana pembentukan kepribadian yang sangat efektif dan optimal. Dalam banyak bukti kita temukan bahwa salah satu bekal penting untuk menghadapi tantangan besar adalah dengan berpuasa. Seperti yang terjadi pada kuda aduan sebelum berpacu, dsb.
Bagi orang beriman berpuasa menjadi cara efektif dalam membentuk kebiasaan-kebiasaan baik dalam kehidupan.
1. Puasa, melatih kesabaran dan menjadikan hidup bermakna.
Jika kesabaran menjadi puncak kematangan pribadi seseorang dalam medan apapun, maka berpuasa melatih seseorang untuk bersabar. Rasulullah bersabda :”Puasa adalah separoh kesabaran” HR At Tirmidziy.
Berpuasa melatih seseorang untuk membiasakan diri dengan hidup bermakna, karena dengan berpuasa seseorang dilatih untuk tidak mengerjakan sesuatu yang tidak berguna.
2. Puasa sarana mencapai puncak ketaqwaan
Ketaqwaan adalah standar normatif pergaulan manusia dalam Islam. Firman Allah : ”Sesungguhnya yang paling mulia di antaramu adalah yang paling bertaqwa” QS. 49:13
Ketaqwaan menjadi standar keberuntungan hidup seseorang. (QS, As Syams : 7-10) , dan puasa seperti yang diseruakan Allah SWT membentuk orang yang bertaqwa, (QS. 2:183)
2. RAHASIA DAN SYARAT SHAUM SECARA BATIN
Shaum yang efektif dalam membentuk kepribadian adalah shaum yang tidak hanya berhenti makan dan minun akan tetapi shaum yang dilakukan dengan memenuhi adab-adab berikut ini, yaitu :
  1. mengendalikan keinginan makan dan minum
  2. mengendalikan keinginan nafsu seksual
  3. mengendalikan pandangan mata dari pemandangan terlarang
  4. mengendalikan mulut dari ucapan tercela
  5. mengendalikan telinga dari pendengaran tercela
  6. mengendalikan tangan, kaki dan anggota badan lainnya dari perbuatan sia-sia.
3. DERAJAT SHAUM
Dalam shaum dikenal tiga tingkatan yaitu :
  1. Puasa Awam, yaitu puasa yang hanya dengan mencegah keingan perut dan kemaluan.
  2. Puasa Khusus, yaitu dengan tidak hanya meninggalkan makan, minum dan seksual, tetapi sudah berusaha mencegah pendengaran, penglihatan, ucapan, dan anggota badan lainnya dari perbuatan dosa.
  3. Puasa Khusus-al Khusus, yaitu puasa yang tidak hanya menahan diri dari perbuatan dosa akan tetapi sudah mampu mengendalikan keinginan hati dan fikiran dari keinginan-keinginan randah (duniawi) dan hal-hal yang tidak berguna di hadapan Allah SWT.
4. MACAM-MACAM SHAUM SUNNAH
Puasa sunnah dapat dikelompokkan dalam pereodisasi berikut ini :
  1. Usbu’iyyah (pekanan), seperti puasa hari Senin dan Kamis,
  2. Syahriyyah (bulanan), seperti puasa Ayyamul-Bidh (hari-hari terang bulan)
  3. Sanawiyyah (tahunan), seperti puasa hari Arafah bagi yang tidak sedang beribadah haji.
Wallahu A’lam.

Hadist Tentang keutamaan Berpuasa

Hadist Tentang Keutamaan Puasa

Banyak sekali ayat yg tegas dan muhkam (Qathi) dalam kitabullah yg mulia memberikan anjuran utk puasa sebagai sarana utk Taqorrub (mendekatkan diri) kepada Allah Azza wa Jalla dan menjelaskan keutamaan-keutamaan seperti firman Allah Taala yg arti :
Sesungguh kaum muslimin dan muslimat kaum mukminin dan mukminat kaum pria yg patuh dan kaum wanita yg patuh dan kaum pria serta wanita yg benar (imannya) dan kaum pria serta wanita yg sabar (ketaatannya) dan kaum pria serta wanita yg khusyu dan kaum pria serta wanita yg bersedeekah dan kaum pria serta wanita yg berpuasa dan kaum pria dan wanita yg menjaga kehormatan (syahwat birahinya) dan kaum pria serta kaum wanita yg banyak mengingat Allah. Allah menyediakan bagi mereka ampunan dan pahala yg besar.” (Surat Al-Ahzab : 35)
Dan firman Allah yg arti “Dan kalau kalian puasa itu lbh baik bagi kalian kalau kalian mengetahuinya“. (Surat Al-Baqoroh : 184)
Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam telah menjelaskan dalam hadits yg shahih bahwa puasa adl benteng dari syahwat perisai dari neraka Allah Tabaraka wa Taala telah mengkhususkan satu pintu syurga utk orang yg puasa puasa bisa memutuskan jiwa dari syahwat menahan dari kebiasaan-kebiasaan yg jelek hingga jadilah jiwa yg tenang. Inilah pahala yg besar keutamaan yg agung dijelaskan secara rinci dalam hadits-hadits shahih berikut ini dijelaskan dgn penjelasan yg sempurna.
  1. Puasa adl PerisaiRasulullah Shalallahu alaihi wasallam menyuruh orang yg sudah kuat syahwat dan belum mampu utk menikah agar berpuasa menjadikan sebagai wijaa (pemutus syahwat jiwa) bagi syahwat ini krn puasa menahan kuat anggota badan hingga bisa terkontrol menenangkan seluruh anggota badan serta seluruh kekuatan (yang jelek) ditahan hingga bisa taat dan dibelenggu dgn belenggu puasa. Telah jelas bahwa puasa memiliki pengaruh yg menakjubkan dalam menjaga anggota badan yg dhahir dan kekuatan batin. Oleh krn itu Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda “Wahai sekalian para pemuda barang siapa diantara kalian telah mampu baah (menikah dgn berbagai macam persiapannya) hendak menikah krn menikah lbh menundukan pandangan dan lbh menjaga kehormatan. Barang siapa yg belum mampu menikah hendaklah puasa krn puasa merupakan wijaa (pemutus syahwat) baginya.” HR. Bukhori (4/106) dan Muslim (no. 1400) dari Ibnu Masud
    Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam telah menjelaskan bahwa syurga diliputi dgn perkara-perkara yg tak disenangi dan neraka diliputi dgn syahwat jika telah jelas demikian -wahai muslimin- sesungguh puasa itu menghancurkan syahwat mematahkan tajam syahwat yg bisa mendekatkan seorang hamba ke neraka puasa menghalangi orang yg puasa dari neraka oleh krn itu banyak hadits yg menegaskan bahwa puasa adl benteng dari neraka dan perisai yg menghalangi seseorang dari neraka.
    Bersabda Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam “Tidaklah ada seorang hamba yg puasa di jalan Allah kecuali akan Allah jauhkan dia (karena puasanya) dari neraka sejauh tujuh puluh musim “. (HR. Bukhori (6/35) Muslim (1153) dari Abu Said AlKhudri ini adl lafadh Muslim. Sabda Rasulullah Sholallahu alaihi wasalam : 70 musim yakni : perjalanan 70 tahun demikian dikatakan dalam “Fathul Bari” (6/48))
    “Puasa adl perisai seoramg hamba berperisai dengan dari api neraka”. (HR. Ahmad (3/241) (3/296) dari Jabir Ahmad (4/22) dari Utsman bin Abil Ash. Ini adl hadits yg shohih).
    Barang siapa yg berpuasa sehari di jalan Allah maka diantara dia dan neraka ada parit yg luas seperti antara langit dgn bumi“. (Dikeluarkan oleh Tirmidzi (no. 1624) dari hadits Abi Umamah)
    Sebagian Ahlul Ilmi telah memahami bahwa hadits-hadits tersebut merupakan penjelasan tentang keutamaan puasa ketika jihad dan berperang di jalan Allah namun dhahir hadits ini mencakup semua puasa jika dilakukan dgn ikhlas krn mengharapkan wajah Allah Taala sesuai dgn apa yg dijelaskan Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam termasuk puasa di jalan. (yang disebutkan di dalam hadits ini)
  2. Puasa bisa memasukan seorang hamba ke dalam syurga
  3. Engkau telah tahu wahai hamba Allah yg taat mudah-mudahan Allah memberimu taufik utk mentaati-Nya menguatkanmu dgn ruh dari-Nya bahwa puasa menjauhkan orang yg mengamalkan dari neraka. Jika demikian berarti mendekatkan ke bagian pertengahan syurga.
    Dari Abi Umamah radhiallahu anhu “Aku berkata : “Ya Rasulullahu Shalallahu alaihi wasallam tunjukkan padaku amalan yg bisa memasukanku ke syurga; beliau menjawab: “Atasmu puasa tak ada (amalan) yg semisal dgn itu.” (HR NasaI (4/165) Ibnu Hibban (hal. 232 Mawarid) Al-Hakim (1/421) sanad SHAHIH)
  4. Diberi pahala yg tak terhitung
  5. Orang yg berpuasa punya dua kegembiraan
  6. Bau mulut orang yg puasa lbh wangi dari bau miskDari Abi Hurairah radhiallahu anhu : Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda “Semua amalan bani Adam untuk kecuali puasa (pahala tak terbatas) krn puasa itu utk Aku dan Aku akan membalas puasa adl perisai jika salah seorang kalian sedang puasa janganlah berkata keji dan berteriak-teriak jika ada orang yg mencerca atau memerangi ucapkankanlah : “Aku orang yg sedang puasa (ucapan dgn lisan) [1] demi Dzat yg jiwa Muhammad di tangan-Nya sesungguh bau mulut orang yg puasa lbh wangi di sisi Allah daripada bau minyak misk [2] orang yg puasa punya dua kegembiraan jika berbuka gembira jika bertemu dgn Rabb gembira krn puasa yg dia lakukan.” (HR. Bukhri (4/88) Muslim (no. 1151) ini lafadz Bukhori) Dalam riwayat Bukhori :”Meninggalkan makan minum dan syahwat krn Aku puasa itu untuk-Ku. dan Aku yg akan membalasnya. kebaikan dibalas dgn sepuluh kali lipat.”
    Dalam riwayat Muslim “Semua amalan Ibnu Adam dilipat gandakan kebaikan dibalas dgn sepuluh kali sampai tujuh ratus kali lipat Allah Taala berfirman : Kecuali puasa krn dia itu untuk-Ku dan Aku yg akan membalas dan meninggalkan syahwat dan makanan krn Aku bagi orang yg puasa ada dua kegembiraan : gembira ketika berbuka dan gembira bertemu dgn Rabb dan sungguh bau mulut orang yg puasa disisi Allah adl lbh wangi dari pada bau misk.”
    Dengan ucapan yg terdengar oleh si pencerca atau orang yg mengganggu tersebut ada yg mengatakan : diucapkan di dalam hati agar tak saling mencela dan saling memerangi. Yang pertama lbh kuat dan lbh jelas krn ucapan secara mutlak adl dgn lisan adapun bisikan jiwa dibatasi oleh sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam seperti yg diriwayatkan oleh Abu Hurairah : “Sesunguh Allah memaafkan bagi umatku apa yg terbetik dalam hati selama belum diucapkan atau diamalkannya” (Muttafaqun alaih). Maka jelaslah bahwa ucapan itu mutlak tak terjadi kecuali oleh ucapan yg dapat dididengar dgn suara yg terucap dan huruf. Wallahu alam. Lihat apa yg telah ditulis oleh Ibnul Qayyim dalam Al-Wabilu Shayyin minal Kalami At-Thayyib hal.22-3
  7. Puasa dan Al-Quran akan memberikan syafaat kepada ahlinyaRasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda “Puasa dan Al-Quran akan memberikan syafaat kepada hamba di hari kiamat puasa akan berkata : “Wahai Rabbku aku menghalangi dari makan dan syahwat berilah dia syafaat karenaku Al-Quran pun berkata : “Aku telah menghalangi dari tidur di malam hari berilah dia syafaat. Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda : “maka kedua memberi syafaat. [1]” (Diriwayatkan oleh Ahmad (no.6626) Hakim (1/554) Abu Nuaim (8/161) dari jalan Huyyay bin Abdullah dari Abdurrahman Al-Hubuli dari Abdullah bin Amr. Dan sanad HASAN)
  8. Puasa merupakan kafaratDiantara keistimewaan puasa yg tak ada dalam amalan lain adalah; Allah menjadikan sebagai kafarat bagi orang yg memotong rambut kepala (ketika Haji) krn ada udzur sakit atau penyakit di kepala dan kafarat bagi yg tak mampu utk membeli kurban kafarat bagi pembunuh orang kafir yg punya perjanjian krn tak sengaja juga sebagai kafarat bagi yg membatalkan sumpah atau yg membunuh binatang buruan di tanah haram dan sebagai kafarat dhihar akan jelas bagimu dalam ayat-ayat berikut ini;
    Allah Taala berfirman (yang artinya) :
    “Dan sempurnakanlah olehmu ibadah haji dan umrah krn Allah; maka jika kamu terkepung (terhalang oleh musuh atau sakit) maka wajib menyembelih kurban yg mudah didapat. Dan janganlah kamu mencukur rambut kepala mu hingga kurban itu sampai ketempat maka barang siapa sakit atau ada gangguan di kepala maka hendaklah memberi fidyah yaitu berpuasa atau memberi shodaqoh menyembelih kurban maka ketika telah aman maka barang siapa yg melaksanakan ibadah haji dgn cara tamathu maka wajiblah menyembelih kurban yg sudah di dapat (membayar dam) maka barang siapa yg tak menemukan (binatang kurban atau tak mampu) maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari lagi apabila kamu telah kembali itulah sepuluh hari yg sempurna. Demikianlah bagi orang yg bukan dari penduduk Masjidil Haram dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwasa Allah Maha keras siksanya. (Surat al-Baqoroh : 196) Allah Taala juga berfirman yg arti :”Dan jika ia dari golongan orang yg mengikat perjanjian antara kamu dgn mereka maka hendaklah dibayar uang tebusan yg diserahkan kepada keluarga dan merdekakan budak mumtetapi barang siapa tak mampu maka berpuasalah dua bulan berturut-turut utk penerimaan taubat dari pada Allah (sebagai suatu jalan bertaubat) krn Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Surat An-Nisaa :92)
    Allah Taala berfirman yg arti :”Allah tak menghukum kamu krn keterlanjuran sumpah- sumpahmu yg tak di sengaja tetapi ia menghukum kamu krn sumpah yg kamu sengaja (apabila kamu merusakannya) maka kifarat sumpah itu ialah memberi makan sepuluh orang miskin yaitu dari makanan yg biasa kamu berikan kepada keluargamu atau memberikan pakaian kepada mereka atau memerdekan hamba sahaya. Barang siapa yg tak sanggup melakukan yg demikian hendaklah ia berpuasa tiga hari. Itulah kifarat sumpahmu jika kamu bersumpah. Dan peliharalah sumpah-sumpahmu (jangan terlalu mudah bersumpah). Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat kepadamu supaya kamu mensyukuri.” (Surat Al-Maidah ayat : 89)
    Allah Taala berfirman yg arti :”Hai orang-orang yg beriman janganlah kamu membunuh binatang buruan ketika kamu sedang ihram. Barang siapa diantara kamu yg membunuh dgn sengaja maka wajiblah atas denda ialah mengganti dgn binatang ternak yg seperti binatang yg dibunuh yg ditetapkan oleh dua orang yg adil (penduduk Mekkah) atau kifarat memberi makanan kepada orang-orang miskin. atau berpuasa seimbang dgn makanan yg dikeluarkan itu supaya merasakan akibat perbuatan barang siapa yg mengulangi lagi mengerjakan maka Allah akan menyiksa Allah Maha Perkasa lagi mempunyai hak siksa.”(Surat Al-Maidah : 95)
    Allah Taala berfirman yg arti :”Orang-orang yg mendhihar istri kemudian ingin kembali kepada apa yg mereka katakan maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua bercampur (bersetubuh). Demikian itu dijadikan nasihat kepadamu utk mengerjakan dan Allah senantiasa mengetahui rahasia apa yg kamu kerjakan maka barang siapa yg tak memperoleh budak (karena tak kuat mengadakan atau memang tak ada) maka ia berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum kedua bersentuhan maka barang siapa yg tiada berkuasa puasa hendaklah memberi makan enam puluh orang miskin (keringanan) yg demikian itu agar kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan itulah hukum-hukum Allah dan bagi orang-orang yg mengingkari (hukum-hukum Allah itu) adzab yg pedih.” (Surat Al-Mujadalah :3-4)
    Demikian pula puasa dan shodaqoh bisa menghapuskan fitnah seorang pria dari harta keluarga dan anaknya. Dari Hudzaifah Ibnul Yaman radhiallahu anhu berkata Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam:
    “Fitnah pria dari keluarga (istri) harta dan tetangga bisa dihapuskan oleh shalat puasa dan shodaqoh.” (HR. Bukhori (2/7) Muslim (144))
  9. Rayyan bagi orang yg puasaDari Sahl bin Saad radhiallihu anhu dari Nabi Shalallahu alaihi wasallam bersabda (yang artinya) : “sesungguh dalam syurga ada satu pintu yg disebut dgn rayyan orang-orang yg puasa akan masuk di hari kiamat nanti dari pintu tersebut tak ada orang selain mereka yg memasukinya. jika telah masuk orang terahir yg puasa ditutuplah pintu tersebut barang siapa yg masuk akan minum dan barang siapa yg minum tak akan merasa haus utk selamanya.” (HR. Bukhori (4/95). Muslim (1152) tambahan akhir dalam riwayat Ibnu Khuzhaimah dalam kitab Shahih (1903))

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Affiliate Network Reviews